RS Syarif Hidayatullah – Rasa gatal yang amat sangat disertai munculnya bentol-bentol kemerahan pada kulit secara mendadak sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman dan kecemasan bagi siapa saja yang mengalaminya. Reaksi kulit yang muncul secara tiba-tiba ini dalam istilah awam dikenal luas dengan sebutan biduran atau kaligata. Sementara dalam dunia medis, kondisi ruam kulit yang khas ini disebut sebagai urtikaria.
Di tengah dinamika lingkungan perkotaan seperti di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya, perubahan cuaca yang ekstrem, paparan polusi, serta konsumsi makanan atau obat-obatan tertentu seringkali menjadi pemicu timbulnya biduran. Banyak masyarakat menganggap biduran sebagai reaksi alergi biasa yang akan sembuh dengan sendirinya. Namun, Rumah Sakit Syarif Hidayatullah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, karena biduran dapat berlangsung secara kronis atau bahkan menjadi pertanda awal dari reaksi alergi berat yang membutuhkan penanganan medis segera.
Ilustrasi biduran skema pelepasan histamin pada lapisan kulit saat biduran (Foto: Dok. RS Syarif Hidayatullah)
I. Memahami Apa Itu Biduran dan Mekanisme Terjadinya pada Kulit
Biduran atau urtikaria adalah reaksi vaskular pada kulit yang ditandai dengan munculnya peninggian kulit yang berbatas tegas (penebalan/bentol), berwarna kemerahan atau pucat di bagian tengahnya, dan disertai rasa gatal yang sangat intens. Bentol biduran dapat bermunculan di satu area tubuh saja atau menyebar ke seluruh permukaan kulit, dengan ukuran yang bervariasi mulai dari bintik kecil hingga plak berdiameter besar.
Secara patofisiologi, biduran terjadi ketika sel-sel kekebalan tubuh yang disebut sel mast (mast cells) melepaskan senyawa kimia alami bernama histamin dan mediator inflamasi lainnya ke dalam aliran darah. Pelepasan histamin ini menyebabkan pembuluh darah kecil (kapiler) di lapisan kulit melebar dan mengalami kebocoran cairan ke jaringan sekitarnya. Penumpukan cairan di bawah jaringan kulit inilah yang membentuk bentol atau pembengkakan (edema), sementara merangsangnya ujung-ujung saraf kulit memicu rasa gatal yang hebat.
II. Pengelompokan Jenis Biduran Berdasarkan Durasi
Berdasarkan jangka waktu terjadinya, dunia medis membagi biduran menjadi dua kategori utama:
- Biduran Akut (Acute Urticaria): Jenis biduran yang muncul secara mendadak dan biasanya berlangsung kurang dari 6 minggu. Sebagian besar kasus biduran akut hilang dalam hitungan jam atau beberapa hari setelah faktor pemicunya dihilangkan.
- Biduran Kronis (Chronic Urticaria): Jenis biduran yang muncul berulang kali hampir setiap hari dan berlangsung lebih dari 6 minggu. Biduran kronis sering kali sulit diidentifikasi penyebab tunggalnya (urtikaria kronis idiopatik) dan dapat mengganggu kualitas hidup, waktu tidur, serta konsentrasi penderitanya secara signifikan.
III. Beragam Faktor Penyebab dan Pemicu Utama Biduran
Meskipun gejala fisik biduran terlihat sama, faktor pemicu utama di balik pelepasan histamin bisa sangat beragam pada setiap orang:
A. Faktor Alergen (Reaksi Alergi)
- Makanan Makanan Tertentu: Makanan laut (seafood seperti udang, kepiting, cumi), telur, kacang-kacangan, susu sapi, serta bahan tambahan makanan (zat pewarna atau pengawet).
- Obat-obatan: Penggunaan obat antinyeri golongan nonsteroid (NSAID seperti ibuprofen atau asam mefenamat), antibiotik (seperti penisilin), atau obat penurun tekanan darah tertentu.
- Gigitan atau Sengatan Serangga: Reaksi racun dari sengatan lebah, gigitan nyamuk, atau semut.
- Kontak Fisik Alergen: Kontak langsung kulit dengan bulu hewan peliharaan, getah tanaman, atau bahan latex.
B. Pemicu Fisik dan Lingkungan (Physical Urticaria)
- Suhu Dingin atau Panas: Paparan udara dingin yang ekstrem, air dingin, atau sebaliknya suhu panas dan cuaca terik.
- Sinar Matahari (Solar Urticaria): Paparan paparan radiasi sinar ultraviolet secara langsung pada kulit yang sensitif.
- Tekanan dan Gesekan Fisik (Dermografisme): Goresan ringan, tekanan pakaian yang terlalu mengetat, atau ikat pinggang dapat membentuk garis bentol pada kulit.
- Keringat dan Aktivitas Fisik: Peningkatan suhu tubuh akibat olahraga berat, mandi air hangat, atau kondisi emosional yang memicu keringat.
C. Kondisi Medis Mendasar dan Infeksi
- Infeksi Virus atau Bakteri: Infeksi saluran pernapasan atas (flu), hepatitis, infeksi saluran kemih, atau infeksi lambung akibat Helicobacter pylori.
- Penyakit Autoimun: Gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti penyakit tiroid autoimun, lupus (SLE), atau rheumatoid arthritis.
- Stres Emosional: Stres fisik dan psikologis yang tinggi dapat merangsang pelepasan hormon stres yang memperburuk Reaksi inflamasi dan gatal pada kulit.
IV. Tanda Peringatan Bahaya: Kapan Biduran Menjadi Darurat Medis?
Sebagian besar biduran bersifat ringan dan dapat mereda. Namun, orang tua dan pasien wajib waspada jika biduran disertai dengan kondisi pembengkakan jaringan lunak yang lebih dalam, yang dikenal sebagai angioedema, atau merupakan bagian dari reaksi anafilaksis (reaksi alergi berat yang mengancam jiwa).
Segera datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika biduran disertai gejala berikut:
- Pembengkakan hebat pada area bibir, kelopak mata, lidah, atau tenggorokan.
- Kesulitan bernapas, napas berbunyi menggelek (mengi), atau rasa tercekik di leher.
- Suara menjadi serak mendadak atau kesulitan menelan ludah.
- Pusing berat, sensasi melayang, hingga pingsan atau penurunan kesadaran akibat tekanan darah merosot tajam.
V. Langkah Penanganan Mandiri dan Pengobatan Medis
Penanganan biduran bertujuan untuk meredakan gatal, mengurangi pembengkakan, serta mengidentifikasi dan menghentikan paparan pemicunya.
A. Pertolongan Pertama dan Perawatan Mandiri di Rumah
- Hindari Menggaruk Kulit: Menggaruk bentol justru akan merangsang pelepasan histamin lebih banyak dan berisiko menimbulkan luka infeksi bakteri sekunder.
- Kompres Dingin: Tempelkan kain bersih yang dibasahi air dingin pada area kulit yang gatal untuk menenangkan peradangan dan meredakan bentol.
- Gunakan Pakaian Longgar dan Bahan Sejuk: Hindari pakaian ketat dan berbahan kasar yang dapat menimbulkan gesekan pada kulit.
- Mandi Air Biasa/Suhu Ruangan: Gunakan sabun hipoalergenik yang lembut tanpa pewangi tambahan, dan hindari mandi air hangat saat biduran sedang kambuh.
- Catat Buku Harian Alergi (Symptom Diary): Catat makanan, aktivitas, atau obat yang dikonsumsi sebelum biduran muncul untuk membantu menentukan pemicunya.
B. Pengobatan Medis Terpadu
Jika biduran tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, sangat mengganggu tidur, atau sering kambuh, tim dokter spesialis kulit dan kelamin serta spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah siap memberikan terapi medis yang komprehensif:
- Pemberian Obat Antihistamin: Terapi utama untuk menghentikan efek histamin pada pembuluh darah dan saraf kulit. Dokter dapat meresepkan antihistamin generasi baru yang minim efek samping mengantuk untuk penggunaan harian.
- Terapi Kortikosteroid Jangka Pendek: Pada kasus biduran akut yang parah atau disertai pembengkakan angioedema, dokter dapat memberikan kortikosteroid oral atau injeksi untuk meredakan peradangan dengan cepat.
- Tes Alergi Komprehensif (Skin Prick Test / Cek IgE Spesifik): Untuk kasus biduran kronis atau berulang, laboratorium diagnostik Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menyediakan pemeriksaan penapisan alergi lengkap untuk mendeteksi sumber alergen pasti yang memicu biduran.
- Terapi Imunomodulator dan Biologis: Bagi pasien biduran kronis yang tidak merespon pengobatan antihistamin standar, dapat diberikan terapi obat tingkat lanjut di bawah pengawasan ketat dokter spesialis.
Kesimpulan
Biduran bukan sekadar masalah gatal dan bentol biasa. Meskipun kerap dapat sembuh secara mandiri, penting bagi masyarakat untuk memahami penyebab dasarnya serta mengenali tanda-tanda bahaya yang menyertainya. Menghindari faktor pemicu utama, tidak menggaruk area ruam, serta menggunakan obat-obatan yang tepat sesuai petunjuk dokter adalah langkah efektif untuk mengendalikan biduran. Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami biduran berulang, kronis, atau disertai sesak napas dan pembengkakan di wajah, segera konsultasikan kondisi tersebut ke fasilitas dokter spesialis di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah. Bersama fasilitas diagnostik modern dan pelayanan medis terpercaya, kami siap membantu Anda kembali nyaman beraktivitas dengan kulit yang sehat dan bebas dari gatal!
Referensi:Alodokter. (2025, 09 Oktober). Biduran: Gejala, penyebab, dan pengobatan. Ditinjau secara medis oleh dr. Pittara. https://www.alodokter.com/biduranKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022, 02 Agustus). Penyebaran biduran dan cara mengatasinya. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan / Kemenkes Keslan. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/853/penyebab-biduran-dan-cara-mengatasinyaSiloam Hospitals. (2025, 08 Mei). Apa itu biduran? Gejala, penyebab, dan cara mengobatinya. Tim Medis Siloam Hospitals. https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-biduran

