Testimonial

hotline atas2

Pengalaman Bunda Cindyta Septiana yang dituangkan dalam akun instagramnya @cindytaseptiana pada 18 Agustus 2017

265684 P5MV2P 984 copy23

 

 

 

 

 

 

 

 

Alhamdulillah...
Albarra lahir dengan proses yang lebih cepat, mudah, dan berkah.
Saat itu, pagi jelang siang ada flek, lalu langsung cuss ke RS Syarif Hidayatullah dibantu pemeriksaan oleh bidan yang sabar dan menenangkan. Ya, menenangkan sekali, karna saya di rumah hanya berdua toddler yang saat itu juga baru pulih dari sakit. Jadi, selama perjalanan bidan bisa diakses via WhatsApp untuk konsultasi.

Alhamdulillah...
Saat itu bulan Ramadhan penuh berkah, setelah tarawih semua siap. Ada bapak bidan kesayangan Ayah Igo dan dr. Teti Ernawati, dokter obgyn yang baik hati, lemah lembut, komunikatif, pronormal, proASI, serta menyenangkan dengan tampilan syari.

Alhamdulilah...
Pada 06.06.17 tepat pukul 23.30, lahir putra ke-2 kami yang semok (baca: sehat montok) lahir dengan bb 3,75 kg dan tb 50 cm. Proses persalinan normal, IMD lancar.
Langsung pindah ke ruang perawatan dan Albarra langsung bisa menyusu dengan lahap adalah nikmat luar biasa.

Alhamdulillah...
Menginap hanya semalam, karna kondisi ibu pascapersalinan normal memang bisa cepat pulih menurut dr. Teti dan bayi pun sehat setelah pemeriksaan oleh dokter anak kesayangan dr. Diatrie jadi boleh pulaang, Alhamdulillah...
Semua proses kehamilan hingga melahirkan sangat menyenangkan, semua tenaga medis sangat profesional dan membantu dengan sepenuh hati. Terima kasih RS. Syarif Hidayatullah. Semoga selalu sukses, bermanfaat, dan amanah.

Dokter yang menangani:

dr tetidr diatire

 

Raffasya Abid Setyawan adalah anak laki-laki saya, Raffa anak kedua yang saya dapatkan setelah 6 tahun kelahiran putri pertama saya, pengalaman saya dengan putri pertama saya Alhamdulillah tidak ada kendala yang serius walaupun saat itu masa kehamilan saya dan kelahirannya juga tergolong sulit akan tetapi tidak banyak penyakit yang saya derita di kala itu dan lama juga proses kelahirannya kerana hanya terhenti pada pembukaan ke 2  pada minggu ke 38 (harus di induksi-infus) akan tetapi bisa normal. Putri pertama saya adalah anak asi perah (ASIP) kombinasi dengan susu formula (SUFOR) dan dia tidak masalah dengan media apapun baik itu DOT atau susu langsung dari saya.

Pengalaman mengandung anak kedua saya sungguh banyak cerita, pada masa mengandungnya saya menderita hypersalivasi dan hampir kehilangan nafsu makan, hal itu berlangsung dari trimester pertama hingga menjelang kelahiran. Karna itu berbagai macam penyakit yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya derita (Infeksi Saluran Kemih dan Herpes di bagian dada sebelah kiri) pun saya derita pada saat kehamilan itu dengan konsekuensi meminum banyak obat-obatan selama hamil, walaupun juga obat pasti atas rekomendasi dokter spesialis dan dokter kandungan.

Menjelang melahirkan pun si dede bayi dalam kandungan rupanya betah di dalam perut  sampai 41 minggu pun belum ada tanda-tanda kelahiran. Dengan usaha maksimal (induksi-infus) Alhamdulillah masih bisa normal proses melahirkannya. Kekhawatiran saya terhadap anak saya yang kedua pun memuncak pada saat 2 bulan 24 hari, saya harus meninggalkan dia untuk kembali bekerja seperti semula. 2 hari pertama masuk kerja, saya coba tinggalkan ASIP yang diberikan dengan DOT, reaksinya sungguh diluar dugaan. Raffa tidak mau minum ASI langsung dari saya lagi, memang selama ini Raffa saya perhatikan jika minum ASI langsung selalu keluar bunyi dan terlihat selalu di ujung puting saja serta lepas lepas minumnya.

Akan tetapi, dia mau berjuang untuk tetap minum. Hal itu ditandai dengan kenaikkan berat badan Raffa setiap bulannya. Akan tetapi setelah kejadian DOT itu, Raffa hanya mau minum langsung dari saya pada saat dia dalam keadaan mengantuk berat atau bangun dari tidurnya. Selebihnya jika dalam keadaan sadar Raffa tidak mau, yang berakhir dengan amukan Raffa yang sudah lapar dan lelah (dia tertidur karena memang sudah lelah menangis).

Hal itu berlangsung selama seminggu, hampir setiap jam apalagi setiap malam kami satu rumah tidak bisa tidur, Raffa mengantuk dan menangis kencang sampai seisi rumah terganggu. Saya sudah mencoba memberikan ASIP saya dengan bantuan pipet atau sendok, akan tetapi saya terus berfikir jika Raffa seperti ini terus bisa-bisa produksi ASI saya habis karena Raffa tidak langsung minum dari saya melainkan saya harus memerah ASI saya sendiri  dengan alat .

Saya ingin membayar kesalahan saya terhadap putri pertama saya yang saya beri campuran ASI dan SUFOR dengan memberikan ASI saja ke anak kedua saya Raffa sampai dengan usia 2 tahun nanti. Hampir saja tekad saya itu goyah karna Raffa menderita bingung puting. Alhamdulillah saya mendapatkan rekomendasi dan informasi Klinik Laktasi dari website Rumah Sakit Syarif Hidayatullah. Akhirnya pada tanggal 10 Oktober 2017 saya ke Rumah Sakit Syarif Hidayatullah yang memang juga menyediakan rawat inap untuk kasus Laktasi seperti yang Raffa alami. Pada saat kedatangan, saya dibantu oleh Konselor Laktasi yang memberikan informasi secara detail terhadap apa yang harus saya lakukan dan saya mencobanya sendiri dirumah. Salah satunya adalah Skin to Skin dan juga memberikan ASI dengan alat bantu. Akan tetapi, karena kondisi di rumah kurang kondusif dan stamina saya merosot (sakit flu) saya menyerah dan memilih rawat inap saja untuk terapi Raffa.

Alhamdulillah di bantu dengan dr. Anjar Setiani, Sp.A dan Tim Laktasi Rumah Sakit Syarif Hidayatullah dr. Gina Swastika, IBCLC, CIMI serta dr. Erika Agustianti, Raffa bisa sembuh kembali dan mau bertahap untuk minum langsung dari payudara saya. Bahkan saya diberikan kemudahan dan dukungan melalui surat izin yang diberikan oleh rumah sakit selama saya menemani Raffa menginap di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah. Pada saat saya mulai ngantor, pengasuh Raffa diajarkan juga cara memberikan minum Raffa dengan gelas  karena memang Raffa seterusnya tidak disarankan untuk minum ASI melalui DOT.

Pada saat perawatan itu juga ternyata baru terdeteksi bahwa Raffa menderita Tounge tie dan Lip tie. Raffa ditangani langsung dengan Tim Laktasi Rumah Sakit Syarif Hidayatullah dengan baik dan hingga saat ini Raffa sudah semakin normal minum ASI langsung dari payudara saya dan untuk kontrol perkembangan Raffa kami pun rutin setiap bulan mengunjungi Klinik Laktasi Rumah Sakit Syarif Hidayatullah.

Tanggal pertama kali mengunjungi Klinik Laktasi Rumah Sakit Syarif Hidayatullah : 10 Oktober 2017